Tampilkan postingan dengan label anak membaca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak membaca. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Desember 2009

TPA, Alternatif pengasuhan Anak



BAGI orangtua yang bekerja, menitipkan anak di taman penitipan anak (TPA) adalah sebuah pilihan. Apa saja untung dan ruginya menitipkan anak pada TPA?
Di Indonesia, menitipkan anak di TPA, mungkin belum menjadi sebuah tren ataupun kebutuhan paling mendesak. Namun, jumlah TPA di Jakarta dan sekitarnya, semakin lama semakin meningkat.
Pasangan muda di kota besar sama-sama bekerja di luar rumah, sehingga kebutuhan akan TPA meningkat. Menitipkan anak di TPA / baby sister memang memiliki plus minusnya. Jika hanya diasuh seorang pengasuh di rumah, anak akan kesepian, tidak bisa bersosialisasi. Anak hanya memiliki seorang teman, yaitu pengasuhnya. Berbeda jika anak dititipkan di penitipan anak.
Di tempat penitipan, anak lebih mudah bersosialisasi dengan anak sebanyanya, mengenal teman- teman baru dan anak diajarkan mandiri. National Institute of Child Health and HumanDevelopment (NICHD) di Amerika, meneliti masalah ibu bekerja yang menitipkan anaknya pada pengasuhan orang lain.
Penelitian tersebut dilakukan pada 1.000 keluarga untuk mendapatkan gambaran mengenai dampak penitipan terhadap perkembangan anak. Penelitian itu mewakili kesepakatan 29 orang peneliti ternama.
Penelitian itu menemukan, memberikan pengasuhan anak kepada pengasuh anak selain ibu, seperti kakek-nenek, pembantu, maupun baby sister, lebih banyak memberikan dampak negatif, walaupun ditemukan pula dampak positif
Untuk menghindari dampak negatif, Joshua menyarankan para orangtua memilih TPA yang berkualitas baik. "Positifnya, anak-anak di TPA cenderung memiliki kemampuan berbahasa yang lebih baik.
Kemampuan mengingat dan kemampuan memecahkan masalah cenderung lebih baik, bila dibandingkan dengan anak yang diasuh di rumah oleh ibunya," tambah Joshua.
Kesimpulan dari penelitian tersebut, pengasuh yang mempunyai kualitas pengasuhan yang baik ternyata akan meningkatkan kemampuan akademik anak dan membuat hubungan ibu dan anak menjadi lebih baik.



http://lifestyle.okezone.com

Minggu, 27 September 2009

Tips Belajar Membaca Kitab Suci



Dalam kamus poerwadarminta, kata "membaca" diberi dua pengertian, yakni: pertama, melihat tulisan dan mengerti atau dapat melisankan apa yang tertulis itu; dan kedua, mengucapkan (doa, dsb). Sementara kata "read", oleh kamus oxford-nya hornby edisi 1985, mengandung banyak arti, antara lain: look at and (be able to) understand; reproduce mentally or vocally the words of (an author, book, etc); study; intrepret mentally; having knowledge gained from books, etc. Penjelasan ini samar-samar membawa kita pada pemahaman bahwa "belajar membaca" agaknya bukan sekadar melek huruf a-i-u-e-o plus konsonan dan bisa melafalkan kata dan kalimat secara benar. Ada makna yang lebih dalam dari sekadar itu.
Tapi apa?adeng a. Sudarsa dalam salah satu tulisannya di harian kompas, 23 oktober 1986, memberikan pengertian yang lebih lengkap bagi kita. Menurut sudarsa, membaca merupakan kegiatan fisik (khususnya di yayasan anak), yaitu mengenali rangkaian huruf dan kata yang tersusun secara sistematik, dan sekaligus kegiatan sosial dan budaya yang dilakukan oleh seorang manusia, sebagai warga dari suatu masyarakat yang berperadaban dan berkebudayaan. Jadi "membaca" bukan sekadar soal melafalkan bunyi tertentu, tetapi yang justru lebih dalam adalah aktivitas yang berkaitan dengan keberadaan kita sebagai mahluk sosial budaya, mahluk yang dimungkinkan untuk berperadaban dan berkebudayaan.
Dengan pengertian terakhir ini sudarsa kemudian membedakan antara seorang casual reader dan seorang functional reader. Yang pertama adalah orang yang sekadar bisa membaca, dalam arti melek huruf, namun tidak terlalu banyak memanfaatkan kemampuannya itu untuk mengembangkan dirinya sebagai mahluk intelektual.
Sedang yang kedua adalah mereka yang dengan sadar dan penuh inisiatif selalu berusaha memanfaatkan kemampuan membacanya itu, guna meningkatkan nilai dirinya serta mengembangkan potensi intelektualnya sebagai warga dari masyarakat yang berkebudayaan.
Pengertian keduanya inilah (functional reader) yang dimaksudkan oleh aldous huxley ketika ia mengatakan, "setiap orang yang tahu, bagaimana membaca, memiliki dalam dirinya kekuatan untuk memperkembangkan diri cth menjadi
detektif swasta, untuk melipatgandakan cara dan jalan kehidupan, untuk membuat hidupnya penuh, berarti dan menarik."


http://esblogrulie-rulie.blogspot.com

Jumat, 11 September 2009

Trik Senang Membaca Buku



1. Mulailah sedini mungkin.
Bayi sudah mulai menyukai buku dari berita baru tentang buku, maka anda bisa mulai dengan buku bergambar. Saat ini, banyak buku-buku yang menarik untuk usia-usia balita. Cobalah ke toko buku bersama si kecil, lalu tawarkan beberapa buku atau biarkan ia memilihnya sendiri. Anda bisa juga mulai mengenalkan buku pada si kecil dengan cara membacakan buku di sampingnya.
2. Komik bisa dicoba. Komik juga bagus. Komik bisa menyemangatinya dan membuatnya lebih asyik daripada membaca buku dengan model bab-per-bab. Komik lebih baik dan memiliki unsur pendidikan lebih baik dibandingkan dengan video games. Dan untuk anak dengan usia yang lebih dewasa, anda bisa pula mencoba menawarkan kepadanya novel bergambar dan pastikan anda meyeleksinya terlebih dahulu.
3. Arahkan dengan contoh (lead by example). Bimbingan masyarakat dengan majalah dan surat kabar, merupakan bacaan yang cocok pula buat si kecil. Ceritakan tentang hal-hal yang baru saja anda baca –apabila sesuai- kepadanya dengan antusias, sehingga ia mau terlibat dengan topik anda. Dan jika anak anda tertarik membacanya, biarkan ia membacanya. Kuncinya adalah berusaha membuatnya tertarik terlebih dahulu.
4. Buat aturan kecil. Buat aturan tentang waktu, dimana pada saat itu merupakan waktu bebas tv maupun video games, hal ini untuk mendorong si kecil beraktifitas lain(cthnya gabungan masyarakat), dan membaca buku alternatif penggantinya.

Dukung kampanye
stop dreaming start action


http://tipsanda.com