Tampilkan postingan dengan label guru bimbel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label guru bimbel. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Agustus 2010

Sistem Pengajaran Bimbel Di Indonesia

Begitu menginjak bangku Kelas XII SMA, pikiran kita langsung tertuju untuk mendaftar bimbel. Wajar. Standar UN yang lumayan tinggi bikin nyali kita bergidik, nggak pede bisa lulus atau nggak.Sampe saat ini, bimbel emang masih jadi pilihan solusi terbaik. Maklum, mereka biasanya punya metode pengajaran dan cara praktis untuk menjawab soal. Tapi apakah harus pas Kelas XII baru kita grusak-grusuk kepikiran pengen ikut bimbel?

Seharusnya persiapan ikut bimbel direncanain dari awal masuk SMA. Kalo emang niatnya pengen sukses dan lulus SMA nantinya. Sebab, dengan kontinyu ikut bimbel, kita jadi terbiasa dengan metode-metode yang ditawarkan bimbel. Psikologi kita jadinya juga lebih siap menghadapi final exam, UN itu,Itu sebabnya, sebelum mutusin mau pilih Guru bimbel, kita harus tau dulu program yang mereka punya. Jangan sampe program yang ditawarin cuma menggenjot kita di akhir Kelas XII. Soalnya kan, persiapan UN harusnya udah digeber dari Kelas X, biar nggak panik pas Kelas XII. Apalagi begitu tau UN dimajuin, kayak tahun ini.

Biar makin sukses, sebaiknya kita juga nyari bimbel yang sekaligus bisa bantuin kita untuk siap menghadapi SNMPTN dari jauh-jauh hari. Bukan cuma lewat program khusus persiapan SNMPTN-nya. Soalnya, untuk jaga-jaga atau antisipasi kalo akhirnya nanti UN bakal dileburkan dengan SNMPTN.Sebenarnya kan soal SNMPTN itu ada yang beririsan dengan soal UN atau ujian-ujian semester lainnya. Seharusnya ini bisa diperdalam bukan cuma pas mendekati SNMPTN, tapi dari awal Kelas X. Siswa udah dipersiapkan dan dilatih agar nantinya nggak perlu belajar dari awal lagi untuk SNMPTN.Agak susah emang ngeliat bimbel mana yang udah siap bantuin kita lulus UN dan tembus SNMPTN dari awal kita masuk bimbel. Salah satu caranya ya dengan nanya langsung program apa yang bimbel tersebut tawarin. Kita bisa liat dari cara bimbel mengolah hasil try out kita.

Bimbel yang baik biasanya punya sistem yang bisa melihat kekurangan dari siswanya diliat dari hasil try out-nya. Dari situ seharusnya udah bisa keliatan kesiapan siswanya menghadapi UN dan SNMPTN. Jadi emang bukan cuma diliat pas siswa ikut program intensif UN atau SNMPTN

Sumber : hai-online.com

Temukan semuanya tentang Bisnis & Pasang Iklan : Iklan & Jasa - Iklan Baris & Iklan Gratis – Indonesia

Kamis, 29 Juli 2010

Kualitas Seorang Guru

Bagaimana kompetensi profesional guru Indonesia? Meskipun saat ini sudah banyak guru yang lulus sertifikasi tapi gambaran komptensi profesional guru saat ini adalah sebagai berikut. Sebagian besar guru bingung ketika diminta mengembangkan Standar Isi dan SKL 2006 menjadi kurikulum operasional/kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Sebagian besar guru terkaget-kaget ketika diminta mempraktikkan model pembelajaran kreatif-inovatif seperti example non example, picturre and picture, numbered heads together, jigsaw, problem based introduction, dan lain-lain karena hanya mahir menggunakan dua metode: ceramah dan tugas/PR. Sebagian besar guru tidak mengerti menggunakan penilaian autentik, authentic assessmentn, dalam penilaian KTSP: portofolio, produk, kinerja, proyek, dan pengamatan disertai rubriknya, karena hanya tahu teknik tes obyektif untuk semua kompetensi dasar (KD).

Gambaran komptensi guru seperti itu menunjukkan bahwa guru kita jauh dari profesional. Peringkat komptensi mereka antara tukang-pramu. The World Competitiveness Score Board melaporkan bahwa peringkat kualitas guru Indonesia berada pada urutan ke-59 dengan score 33,81 sedangkan Malaysia pada peringkat ke-28 dengan score 65,88. Hal tersebut paralel dengan hasil tes umum untuk guru TK/SD rata-rata 34,26 sedangkan di luar guru TK/SD ratarata 40,15 dan khusus untuk nilai matematika dan sains rata-rata 13,24-22,33

Meskipun demikian, guru tidak bisa disalahkan! Mereka adalah korban kebijakan pemerintah. Pemerintah mencetak guru melalui LPTK. Pemerintah tidak menyiapkan LPTK sebagai lembaga pencetak guru profesional. LPTK disiapkan untuk mencetak tukang ngajar, juru ngajar, atau pramu bahan ajar saja.

Dengan kurikulum dan model pembelajaran LPTK seperti ini sudah dapat ditebak bahwa lulusannya tidak mampu mengembangkan dan mengimplementasikan model pembelajaran yang bermutu karena dua hal: 1) penguasaan materinya hanya selevel SMA/SMK dan 2) ilmu metodiknya tidak fungsional karena tidak kompeten mengimplementasikannya. Umumnya lulusannya mengajar dengan penguasaan materi pas-pasan dan dengan metode mengajar konvensional turun temurun yang diperoleh dari pengalamannya ketika sekolah dulu, bukan berdasarkan ilmu didaktik-metodik yang diperoleh di bangku kuliah. Mereka kalah hebat dengan instruktur guru bimbel alumni non LPTK.

Sumber : wawasandigital.com

Temukan semuanya tentang Bisnis & Pasang Iklan : Iklan & Jasa - Iklan Baris & Iklan Gratis – Indonesia