Tampilkan postingan dengan label pendidikan kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan kesehatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Desember 2009

Melihat Pendidikan Kesehatan


Banyak kasus kesehatan di Indonesia sekarang bisa dikategorikan sebagai bom waktu. Salah satunya mengenai masalah Pendidikan Kesehatan yang kurang diseriusi. Salah satu dari tiga pilar derajat kesehatan adalah perilaku sehat.

Timbulnya perilaku sehat, didasari pada pemahaman dalam pendidikan kesehatan yang berasal dari pendidikan. Jadi, tak mengherankan kalau banyak kasus kesehatan yang mencuat sekarang, bisa jadi disebabkan masih rendahnya pendidikan kesehatan yang diberikan pada masyarakat.

Sebuah komunitas bisa dikatakan sehat, apabila telah memenuhi tiga pilar derajat kesehatan. Ketiga pilar tersebut merupakan perilaku sehat, lingkungan sehat, serta pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau.

Perilaku sehat merupakan pilar paling utama. Karena komponen tersebut ternyata sangat berpengaruh pada kedua pilar lainnya. Seperti seseorang dengan perilaku sehat, tentu akan menjaga lingkungannya tetap sehat juga. Dan juga dengan perilaku sehat, seseorang akan memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada untuk memelihara kesehatannya.

Namun, pada kenyataannya, di Indonesia hal tersebut seperti bertolak belakang. Peran ilmu pendidikan kesehatan sepertinya tidak terlalu diperhatikan. Akibatnya banyak kasus kesehatan merebak akhir-akhir ini. Yang kalau ditelusuri, sebenarnya berawal dari kurangnya pemahaman masyarakat mengenai kesehatan di sekitarnya. Yang didasarkan pada transfer pendidikan kesehatan mengenai hal ini yang dianggap kurang.

Kurang Terpadu

Hasil penelitian Universitas Sam Ratulangi pada warga Buyat Pante baru-baru ini menunjukkan, bahwa sekitar 72 persen orang di sana tidak mengerti tentang kesehatan lingkungan atau pernah diberitahukan mengenai hal ini. Hasil penelitian ini juga semakin menguatkan asumsi mengenai lemahnya kita menghadapi masalah ini.

Kekurangan ini kemudian makin bertambah parah, saat kita dihadapkan pada kenyataan mengenai sumber daya manusia yang ada. ”Hingga enam tahun terakhir tenaga penyuluh kesehatan yang tercipta hanya sekitar 240 orang. Dan kebanyakan technical assistant, bukan pemain di lapangan seperti yang diharapkan,” tambah Tri.

Selain masalah tersebut, yang paling fatal mengenai hal ini adalah masalah kurang berkesinambungannya program yang dijalankan. Padahal Pendidikan Kesehatan tidaklah bisa diberikan hanya sepotong-sepotong, atau hanya dalam satu waktu yang berbeda. Pemahaman yang baik didapat bila kita terus-menerus mendapatkan transformasi pengetahuan. Dengan cara yang berkesinambungan seperti itulah, banyak kasus kesehatan di negara lain bisa semakin diperkecil. ”Ini juga menunjukkan kurangnya visi preventif dari orang Indonesia,” ucap Tri lagi.

gizi.net

Selasa, 15 September 2009

Terapi Kesehatan Jasmani





Apa hubungannya musik dengan kesehatan? Belakangan ini musik bukan hanya sebagai pengiring belaka dalam film, iklan, sinetron, atau dalam keseharian kita dalam menjalani aktfitas.

Namun, sejalan dengan waktu musik mempunyai banyak manfaat bukan sekedar soundtrack dalam kehidupan saja atau hanya keluar masuk di playlist ipod/mp3 anda. Musik bisa juga dijadikan pengobatan atau music for healing yang mulai banyak digunakan khususnya untuk terapi.
Rumah sakit di luar negeri sudah mulai menggunakan musik untuk terapi kesehatan, hasilnya banyak penyakit dan gangguan psikis yang bisa di atasi. Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian dari califonia state univeristy in fresno, penderita migraine mengalami penurunan sakit kepala setelah mengikuti terapi musik.
Cara memilih musik untuk pengobatan
Pilihlah musik yang sesuai bukan hanya yang kita sukai, biasanya kita memilih musik berdasarkan suasana hati misalnya, ketika sedang marah kita malah mendengarkan musik keras/garang, seharusnya pilih musik yang menenangkan jiwa.
Biasakan mendengar musik melalui pengeras suara, bukan perangkat hand phone(obat anak). Agar tubuh kita bisa merasakan alunan musik yang ada. Siapkan diri kita untuk mendengarkan musik, dengarkan musik secara keseluruhan dan usahakan se relax mungkin tanpa perlu direpotkan dengan hal lain.
Jadikan musik sebagai menu utama, bukan sampingan. Karena yang ada musik hanya dijadikan sebagai latarbelakang, cobalah untuk fokus ketika kita mendengarkan musik dan niscaya akan merasakan manfaatnya.
Respon adalah bagian terpenting dari mendengarkan musik. Melalui respon kita akan merasakan emosi dan sel otak bisa lebih baik. Jauhkan rasa terpaksa ketika ingin mendengarkan musik, jadikan juga musik sebagai cara kita untuk mendapatkan inspirasi dari rasa tenang dan nyaman. Jangan mendengarkan musik apabila aktivitas kita tidak berhubungan dengan musik.
Dengarkanlah musik secara aktif, perlahan dan pasti musik akan menyentuh bagian hati atau paru yang terdalam dan rasakan kebebasannya. Jangan lupa hubungankan jiwa dan raga kita karena secara tidak langsung musik juga bermanfaat untuk mengatasi sakit di tubuh. Tidak ada salahnya untuk dicobakan, selain musik itu menyenangkan juga sudah terbukti mampu menyembuhkan penyakit atau paling ngga mencegah penyakit itu datang.

Dukung kampanye
stop dreaming start action


http://www.inilah.com