Tampilkan postingan dengan label belajar musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar musik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Januari 2010

Saat Tepat Anak Kursus Musik



MUSIK bermanfaat untuk rileksasi dan ketenangan sehingga anak siap berkonsentrasi. Musik pun mampu mengoptimalkan perkembangan otak kiri dan kanan sehingga membantu proses penyerapan otak dalam belajar. Ketahui waktu yang tepat mengikutkan anak pada kursus musik.

Penasaran apakah anak Anda siap untuk menerima kursus musik? Ataukah sekarang dia sudah kursus musik, tapi minta berhenti? Jawaban untuk berbagai pertanyaaan sederhana membantu Anda membuat keputusan tersebut, dan Sheknows punya jawabannya.

Pertanyaan sederhana yang harus dijawab

Pertanyaan pertama yang harus Anda ajukan pada si kecil adalah apakah ia tahu mana tangan kanan dan mana tangan kiri. Anak juga harus bisa berhitung dari 1-10, tahu, dan mengenal huruf A-Z. Demikian menurut Liz Nealon, General Manager KIDZ BOP, perusahaan yang memproduksi musik untuk anak usia 5-12 tahun di Amerika Serikat.

Dikatakannya, bermain musik menyaratkan tingkatan koordinasi sensor motorik yang baik. Bisakah anak Anda memainkan jari-jemarinya, misal menggenggam pensil? Apakah tubuhnya cukup besar untuk duduk di kursi piano dan bisa menekan tuts piano dengan nyaman?

Anak-anak juga butuh tingkat kematangan yang baik saat mulai kursus musik. Setidaknya mereka harus bisa konsentrasi selama kursus, minimal 30 menit tiap pertemuan, dan mengikuti arahan guru kursusnya.

Tanyakan pula pada diri Anda, apakah ia cukup matang untuk menghadapi frustasi dan latihan tekun untuk meningkatkan kemampuannya. "Penelitian membuktikan bahwa tak ada manfaat nyata untuk mulai mengajarkan musik pada anak sejak usia sangat muda. Anda bisa mulai saat usianya menginjak 8 atau 9 tahun," kata Nealon.

Kuncinya latihan dan bersabar

Saat pertanyaan-pertanyaan di atas terjawab positif, itu tandanya anak siap diikutkan kursus musik. Tapi, pekerjaan Anda belum sekursusai.

"Tugas orangtua berikutnya membantu mereka melewati tantangan yang akan dihadapi selama belajar. Memaksa anak untuk melanjutkan pengalaman tak menyenangkannya hanya akan menghilangkan minatnya terhadap musik," tambahnya.

Minta berhenti

Kalau si kecil mengatakan ingin berhenti kursus musik, jangan langsung memarahinya. Tanyakan dan dengarkan masalah yang menyelimuti hatinya. Biarkan ia tahu bahwa Anda peduli dengan masalahnya. Cobalah memahami dan mengobservasi masalahnya sebelum membuat keputusan.

Kalau masalah terletak pada pengajarnya, ikuti satu atau dua kali pertemuan. Perhatikan bagaimana cara ia mengajar, apakah temperamennya mampu menjaga kesabaran anak-anak didiknya.

Nealon mengatakan, Anda harus memperhatikan pula jadwal aktivitas si kecil yang bisa jadi terlalu padat. "Bermain adalah pekerjaan anak-anak. Mereka butuh waktu dan ruang selayaknya anak kecil kebanyakan," tuturnya.

Musik bisa jadi bagian penting dalam kehidupan anak Anda. Namun, kursus musik tak seharusnya menjadi sumber rasa frustasinya.

lifestyle.okezone.com

Kamis, 31 Desember 2009

Musik Melatih Konsentrasi Anak Anda



Musik dapat melatih anak untuk lebih fokus dan konsentrasi. Salah satu cara mengajarkan musik dilakukan dengan metode hand bell. Cara ini mengajarkan anak harmonisasi warna dan nada karena mereka harus memilih satu gambar yang sesuai dengan nada yang ditentukan.

Anak-anak diharuskan belajar alat musik perkusi/Kursus Musik seperti tamborin. Durasinya tidak lama, cukup 30 menit dalam sepekan untuk anak kelompok bermain dan 40-45 menit untuk usia TK. ”Namanya anak TK, mereka baru dalam tahap pengenalan. Mereka belajar mengikuti irama. Daya konsentrasinya masih belum total,” ungkap Sisca.

Anak ada yang mudah menangkap, ada juga yang lebih lambat. Akan tetapi, bermusik sedari kecil dapat meningkatkan nilai musikalitas anak, ini yang ***ngkapkan Sisca.

Ada satu hal yang membuat Sisca terkesan dengan anak-anak didiknya. Ketika Sisca memanggil mereka tampil dalam beberapa kelompok, mereka saling memberi semangat. Menurut Sisca, ini menjadi cara yang sangat baik bagi anak-anak untuk saling menghargai.

Anak yang memiliki talenta musik, atau paling tidak yang sering mendengarkan lagu di rumah, akan terlihat. Pengenalan potensi ini dapat membantu untuk mengetahui dan mengembangkan titik-titik yang perlu dikembangkan dari anak. Anak tersebut biasanya langsung bisa dicirikan sebab kemampuan mereka untuk mengikuti irama berbeda dengan yang tidak mendengarkan musik/Les Musik.

Semakin banyak orang tua yang menyadari bahwa belajar/Kursus Musik dan bermain musik adalah salah satu cara mengembangkan dan menyeimbangkan otak kiri dan kanan. Sisca menyatakan setuju dengan hal ini. ”Saya merasa itu benar, saya perhatikan anak yang belajar ikut Kursus Musik, mereka rata-rata memiliki nilai yang baik dalam mata pelajaran yang lain. Jarang ada anak yang musiknya bagus, peringkatnya kurang bagus,” ungkap sisca.

Dengan ikut kursus musik juga, anak belajar movement, mereka belajar mengikuti gerak. Ini meningkatkan kepekaan sensorik anak dan dengan kepekaan tersebut kemampuan anak dalam memperkirakan terhadap ruang, arah, dan waktu bisa terbangun.

Dengan kombinasi gerakan yang mengikuti, musik dapat merangsang kesadaran anak terhadap tempo dari ketukan-ketukan nada. Gerakan tersebut membuat mereka juga belajar singkronisasi ritme dan urutan-urutan gerakan.

Para orang tua yang tidak menyukai musik klasik tidak perlu kuatir. Musik yang bermanfaat bagi anak bukan hanya musik klasik. Jenis musik yang ritmenya seperti detakan jantung ini memang lebih memungkinkan untuk mengembangkan otak, jiwa, serta pembentukan karakter. Namun, untuk memperkenalkan musik, membentuk karakter anak yang tekun untuk belajar, bisa dilakukan dengan jenis musik lain seperti pop, jazz, atau yang lebih easy listening, dan usahakan yang alunannya cenderung tenang.

Sumber: koran-jakarta.com

Rabu, 16 September 2009

Tips Menjadi Pemain Band Terkenal



Di negeri ini sebagian besar musisi yang sukses dalam industri musik adalah seorang otodidak. Sementara musisi akademis sangat jarang terlihat. Betulkah persoalan otodidak vs akademis adalah persoalan hitam vs putih? Tentu tidak sesederhana itu. Tetapi persoalan itu akan dibahas lain kali. Tetapi kenyataannya adalah bahwa mereka yang mengaku otodidak sebenarnya juga menggunakan ilmu-ilmu akademis meskipun tanpa disadarinya.

Persoalan otodidak-akademis adalah persoalan duluan mana antara ayam-telur. Maka mari singkirkan dahulu perdebatan tentang “ayam-telur” tersebut. Yang lebih penting kali ini adalah bagaimana menjadi seorang otodidak yang sukses? (tentu saja kata sukses disini bukan berarti sukses secara materi tetapi sukses mendapat ilmu
tarian jawa).

Syarat utama untuk seorang otodidak adalah kemauan keras. Karena untuk mendapatkan sebuah ilmu seseorang otodidak harus “mencari sendiri”. Berbeda dengan kondisi dalam sebuah lembaga pendidikan. Apa saja yang harus dipelajari hingga tahapan materi yang mesti dipelajari telah disusun secara sistematis (meskipun banyak juga lembaga pendidikan musik yang sama sekali tidak memiliki sistem pengajaran. Ini parah sekali, lihat disini juga
jual sprei ). Tetapi sesungguhnya materi yang akan dipelajari oleh otodidak maupun akademis adalah sama. Maka kuncinya adalah pahami dahulu “petanya” agar tidak tersesat. Jika belajar dengan buku, bedakanlah antara buku yang memberi ilmu secara “instan” dengan buku yang membahas suatu masalah dari pokok persoalannya. Hal ini hampir sama dengan ungkapan: berilah kail jangan cuma ikan. Dengan pengetahuan yang mengakar membuat banyak persoalan menjadi jauh lebih mudah dipecahkan. Berbeda dengan pengetahuan yang bersifat instan yang hanya memberi satu jawaban untuk satu persoalan.

Lembaga pendidikan seperti
dj school bagi yang belajar musik di lembaga pendidikan, tempat kursus, ataupun private di rumah, tentu bebannya jauh lebih sedikit. Karena materi telah dipersiapkan. Sehingga siswa tinggal berkonsentrasi menerima pelajaran yang diberikan. Tetapi perlu diwaspadai, karena tidak semua lembaga pendidikan musik memiliki sdm dan sistem yang kredibel. Kesuksesan sebuah proses belajar mengajar tergantung dari tiga faktor: pendidik, anak didik, dan sistem pengajarannya.
Jadi belajar di manapun, asalkan ketiga faktornya mendukung, tentu hasilnya akan memuaskan. Persoalannya kemudian adalah, bagai mana cara mengetahui (terutama) seorang pendidik musik dan sistem pengajarannya cukup bagus? Seorang pemain yang bagus belum tentu dapat menjadi pendidik yang bagus. Sebelum memutuskan untuk belajar pada lembaga pendidikan tertentu atau seseorang yang dapat mengajar musik, lebih baik tanyakan dahulu tentang silabus pengajarannya.

Dukung kampanye stop dreaming start action



http://xpressi-music.blogspot.com